JIFMAC 2026
JIFMAC 2026

Lima Dekade Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta

JIFMAC 2026
JIFMAC 2026

Yogyakarta(09/08/2026) — Lima dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah pertunjukan seni tradisional untuk terus bertahan. Namun, Ramayana Ballet Purawisata Jogja membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Memasuki usia 50 tahun, Ramayana Ballet Purawisata merayakan perjalanan panjangnya dengan mengusung tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”. Puncak perayaan akan digelar melalui “Satkara Ratri — Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga” pada Senin (10/8/2026).

Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 16.00–23.30 WIB di Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta. Perayaan ini menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Ramayana Ballet Purawisata dalam mempertahankan pertunjukan kisah epik Rama dan Sinta melalui seni tari Jawa selama setengah abad.

JIFMAC 2026

Lima Dekade Merawat Seni Tradisi

Komisaris Utama Mandira Baruga, Dr. dr. Ulla Nuchrawaty, M.M., dalam sesi Press Conference pada Minggu sore (09/08/26) mengatakan rangkaian perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata sebenarnya telah dimulai sejak 5 April 2026 melalui kegiatan Pasar Minggu Jogja (Pamijo).

Setelah itu, sejumlah agenda digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan. Di antaranya Sarasehan dan Workshop “Inovasi & Kreasi Ramayana Ballet Purawisata”, kegiatan nonton bersama pelajar SD, SMP, dan SMA, nonton bersama komunitas hobi serta lintas agama.

Lima dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah pertunjukan seni tradisional untuk terus bertahan. Namun, Ramayana Ballet Purawisata Jogja membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.

Memasuki usia 50 tahun, Ramayana Ballet Purawisata merayakan perjalanan panjangnya dengan mengusung tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”. Puncak perayaan akan digelar melalui “Satkara Ratri — Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga” pada Senin (10/8/2026).

Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 16.00–23.30 WIB di Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta. Perayaan ini menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Ramayana Ballet Purawisata dalam mempertahankan pertunjukan kisah epik Rama dan Sinta melalui seni tari Jawa selama setengah abad.

Rangkaian kegiatan juga mencakup Gelar Budaya Legenda Dolanan Anak Padang Mbulan dan Festival Konservasi Tari Ramayana ke-5 (FKTR).Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perjalanan Ramayana Ballet Purawisata dengan masyarakat luas sebelum mencapai puncaknya melalui Satkara Ratri. Menurut Ulla, perjalanan selama lima dekade menunjukkan bahwa seni tradisi masih dapat bertahan di tengah perubahan teknologi dan perkembangan industri hiburan.Tetap “Kuno” di Tengah Era Digital.

Salah satu kekuatan Ramayana Ballet Purawisata terletak pada konsistensinya mempertahankan konsep pertunjukan yang telah diwariskan sejak awal. Ulla mengatakan setiap pertunjukan masih mempertahankan cara lama dan tidak terlalu bergantung pada penggunaan teknologi terkini. Bagi pengelola, keputusan untuk mempertahankan karakter tradisional justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

Komisaris Utama Mandira Baruga, Dr. dr. Ulla Nuchrawaty, M.M. – (tengah)

“Kami memang konsisten kuno, ini soal bagaimana kita merawat yang kuno tetap langgeng di kekinian. Butuh leadership dan konsistensi,” tegas Ulla. Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan dalam dipertahankan agar tidak kehilangan karakter yang menjadi kekuatannya. Wisatawan Asing Jadi Bagian dari Perjalanan Ramayana Ballet

Pimpinan Ramayana Ballet Purawisata, Dahanan, menyebut kecintaan wisatawan dari berbagai negara menjadi salah satu alasan pertunjukan ini mampu bertahan hingga sekarang. Menurutnya, tidak sedikit wisatawan asing yang kembali berkunjung pada tahun berikutnya dan mengajak keluarga maupun kerabat mereka untuk menyaksikan pertunjukan.

“Mereka (turis asing) tiap ke sini pasti tahun depannya dia mengajak keluarga dan kerabat dekatnya. Mereka bisa berfoto dan interaksi dengan Rama dan Shinta,” ujar Dahanan. Interaksi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Pertunjukan Ramayana tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman budaya selama berada di Yogyakarta.

Berawal dari Hiburan Malam untuk Wisatawan

Perjalanan Ramayana Ballet Purawisata bermula dari kebutuhan menghadirkan hiburan malam bagi wisatawan mancanegara di Yogyakarta pada pertengahan 1970-an. Cikal bakal kelompok ini berasal dari gagasan Dahanan, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Seksi Kesenian THR Sasanasuka. Bersama Marcus Pardiman dan Suyadi, ia kemudian menghimpun sejumlah penari muda berbakat. Pada 10 Agustus 1976, organisasi Ramayana THR Sasanasuka resmi berdiri sebagai pertunjukan ekstra dari wayang orang.

Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi kelompok yang kini dikenal sebagai Ramayana Ballet Purawisata.Dari sebuah gagasan untuk mengisi kekosongan hiburan malam, pertunjukan tersebut berkembang menjadi salah satu atraksi budaya yang dikenal luas oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Pernah Raih Rekor MURI

Konsistensi Ramayana Ballet Purawisata juga mendapat pengakuan melalui berbagai pencapaian.Pertunjukan ini pernah meraih predikat “The Best in Town” dan pada 8 November 2002 memperoleh rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut diberikan karena Ramayana Ballet Purawisata tercatat sebagai kelompok Ramayana Ballet yang telah mementaskan pertunjukan selama 25 tahun berturut-turut setiap malam tanpa henti. Rekor tersebut terus bertambah seiring keberlangsungan pertunjukan hingga saat ini.

Menjadi Warisan Budaya Hidup Yogyakarta

Setelah perjalanan panjang lebih dari empat dekade, Ramayana Ballet Purawisata masih mempertahankan pementasan kisah Rama dan Sinta hampir setiap malam di Amphitheater Purawisata. Kini, usia 50 tahun menjadi lebih dari sekadar angka bagi Ramayana Ballet Purawisata. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah kesenian tradisional dapat bertahan melalui konsistensi, kecintaan masyarakat, dan kemampuan membangun pengalaman budaya bagi wisatawan.

Melalui perayaan “Satkara Ratri — Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga”, perjalanan setengah abad itu kembali ditegaskan sebagai bagian dari upaya mengabdi, berkarya, dan menjaga warisan budaya.Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan selera hiburan, Ramayana Ballet Purawisata memilih untuk terus merawat akar tradisinya. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya perlu dikenang, tetapi juga harus terus dipentaskan agar tetap hidup.

SON

JIFMAC 2026
JIFMAC 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JIFMAC 2026