Gunungkidul, INAMEDIA.id – H. Sukamto, SH., bersama jajaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan sosialisasi tentang telemedisin di Taman Budaya Gunungkidul diikuti oleh Panewu, Lurah, Dukuh dan kader kesehatan kalurahan se Gunungkidul pada Senin (08/08/2022).
H. Sukamto SH., anggota DPR RI Komisi IX Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Daerah Pemilihan DIY dalam sosialisasi tersebut menyampaikan tentang telemedicine berpotensi merevolusi pelayanan kesehatan di Indonesia.
Layanan telemedicine atau konsultasi online didefinisikan oleh American Academy of Family Physicians:
Telemidicine adalah layanan kesehatan berbasis teknologi yang memungkinkan para penggunanya berkonsultasi dengan dokter tanpa bertatap muka atau secara jarak jauh dalam rangka memberikan konsultasi diagnostik dan tata laksana perawatan pasien.

Di Indonesia, meskipun masih tergolong baru, penggunaan Telemedicine sudah banyak digunakan oleh masyarakat.
Menurut WHO, ada beberapa tujuan yang berkaitan dengan telemedicine, yaitu memberikan dukungan klinis mengatasi hambatan geografis dan jarak serta meningkatkan kesehatan masyarakat melibatkan penggunaan berbagai jenis perangkat teknologi informasi.
Masalah utama yang dialami terkait pelayanan kesehatan di Indonesia adalah jumlah dokter yang masih terbatas dan persebarannya belum merata.
Jumlah dokter di Indonesia perkapita baru mencapai 4 per 10.000 penduduk, masih jauh di bawah rekomendasi WHO yang mencapai 10 per 10.000 penduduk atau 1 per 1.000 penduduk di tiap negara. Sampai saat ini, rasio dokter di Indonesia pada posisi terendah kedua di Asia Tenggara setelah Kamboja. Tiga negara dengan rasio dokter tertinggi di kawasan ASEAN yakni Singapura dengan angka 2,3 per 1.000 penduduk. Brunei Darussalam 1,8 per 1.000 penduduk, dan Malaysia 1,5 per 1.000 penduduk.
Data persebaran dokter di Indonesia belum merata. Di Indonesia, Data BPS 2022 tercatat ada 106.316 dokter.

Daerah dengan jumlah dokter terbanyak: Jawa Barat (14.784), DKI Jakarta (13.921), Jawa Timur (12.890), Jawa Tengah (11.974), Sumatera Utara (5.611), DIY masuk urutan 8 dengan jumlah 3.017, setelah Bali dan Sulawesi Selatan.
Daerah dengan jumlah dokter terendah: Sulawesi (385 dokter), Kalimantan Utara (420 dokter), Papua Barat (435 dokter), Maluku Utara (438 dokter), dan Gorontalo (495).
Jadi hadirnya Telemedicine tentu menawarkan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan, terutama yang berada di wilayah dengan jumlah dokter terbatas dan kondisi geografis yang sulit serta jarak yang jauh.
Dengan hadirnya teknologi Telemedicine di dunia Kesehatan, minimal ada 5 manfaat sebagai berikut pertama akses layanan kepada masyarakat lebih baik dan cepat, kedua hemat biaya, ketiga lebih nyaman, ke empat mengurangi peluang ketidakhadiran tenaga medis, dan kelima meningkatkan akselerasi generasi milenial.
Selanjutnya Yudianto, SKM, M.Si., kabid pengelolaan teknologi informasi pusdatin Kemenkes RI memberikan materi peluang digitalisasi kesehatan di Indonesia merupakan peluang besar, namun masih terbatas dalam pemanfaatan teknologi digital. Pemakai smartphone jutaan orang mengunakan internet terus bertambah dan ini merupakan peluang.
Ada beberapa hal yang perlu dibenahi terutama pada kebijakan belum berbasis pada data dan pelayanan yang kurang efisien yang juga menjadi kendala seperti jutaan rekam medis, klaim & resep diterbitkan berdasarkan informasi individu baik dalam bentuk digital maupun masih dalam bentuk kertas.
Ratusan aplikasi yang mengelola data berbasis informasi individu.
Ribuan penyedia layanan kesehatan mengelola data kesehatan berbasis individu.
Kendala kapasitas kesehatan yang rasio antara tenaga kesehatan dan tempat tidur rumah sakit dengan jumlah penduduk tidak berimbang. Perbandingan 0,38 dokter per 1000 populasi.1,2 tempat tidur Rumah Sakit per 1000 populasi.

Situasi dan tantangan kesehatan di Indonesia yang perlu penanganan serius. Sekarang waktunya melakukan transformasi kesehatan. Pandemi menyadarkan pentingnya Resiliensi Sektor Kesehatan.
Krisis merupakan waktu yang tepat untuk melakukan perubahan sistem kesehatan Indonesia siap untuk bertransformasi.
Pandemi menunjukkan permasalahan sistemik yang harus diperbaiki dan teknologi digital tersedia luas untuk publik lebih terbuka akan perubahan menuju peningkatan kapasitas dan resiliensi sistem kesehatan. Perlu adanya Kolaborasi Menuju Indonesia Sehat.
Menuju Indonesia Sehat tidak dapat ditangani sendiri oleh Kemenkes sehingga perlu kerjasama dengan seluruh pelaku industri kesehatan.
Pandemi mendorong percepatan implementasi transformasi digital kesehatan untuk segera dilakukan.
Kemenkes harus membangun platform untuk menghubungkan berbagai data dan sistem di ekosistem kesehatan dalam satu kesatuan.
C : Mungkas M



















