Floortech Indonesia

sekolah katolik

Tulisan ini dari
http://masiver- ningrum.blogspot .com/2009/ 02/sekolah- katolik-kualitas
nya-menurun. html
Sekolah Katolik Kualitasnya Menurun?
Sekolah katolik mau kemana? Apa yang masih bisa diandalkan dari Sekolah
Katolik? Kualitas dan keunggulan sekolah Katolik yang mulai terlihat
menurun, disadari oleh banyak pihak mulai dari umat Katolik sendiri bahkan
para Uskup. Keprihatinan semacam itu juga dirasakan oleh para Uskup
Waligereja Indonesia yang tergabung dalam KWI. Maka pada sesi hari studi
sidang KWI November 2008 mengambil tema sentral tentang lembaga pendidikan
katolik selain ada penyegaran bagi para Uskup Indonesia bidang politik
menjelang 2009.

1. Fenomena menurunnya kualitas sekolah Katolik

VENEERKAYU

Sekolah katolik mau kemana? Apa yang masih bisa diandalkan dari Sekolah
Katolik? Kualitas dan keunggulan sekolah Katolik yang mulai terlihat
menurun, disadari oleh banyak pihak mulai dari umat Katolik sendiri bahkan
para Uskup. Keprihatinan semacam itu juga dirasakan oleh para Uskup
Waligereja Indonesia yang tergabung dalam KWI. Maka pada sesi hari studi
sidang KWI November 2008 mengambil tema sentral tentang lembaga pendidikan
katolik selain ada penyegaran bagi para Uskup Indonesia bidang politik
menjelang 2009.

Kembali pada persoalan sekolah Katolik yang kualitas dan keunggulanya mulai
menurun, siapa yang bertanggungjawab? Lalu jika sekarang akan diupayakan
perbaikan kualitas dan keunggulannya, bagaimana caranya? Bukankah Negara
memiliki kewajiban untuk mengurus bidang pendidikan? Seperti kita ketahui
dari media massa bahwa Pemerintah RI pada tahun 2009 mengalokasikan dana 20%
dari total APBN untuk pendidikan. Dengan dana itu bangunan sekolah negeri
yang rusak akan diperbaiki, gaji guru akan dinaikan minimal pegawai rendah
Rp. 2.000.000,-. Pemerintah juga memrogramkan pendidikan dasar – menengah di
sekolah negeri gratis. Jika demikian, apakah sekolah Katolik masih mampu
bersaing dengan sekolah negeri dan masihkah sekolah Katolik dibutuhkan oleh
masyarakat? Fenomena turunnya kualitas sekolah Katolik dan turunnya jumlah
siswa, apalagi pendidikan Katolik dirasakan banyak umat mahal, gejala-gejala
itulah menjadi fokus perhatian pada hari studi sidang KWI November 2008.
Keuskupan Surabaya menjadi contoh penelitian dari panitia pengarah hari
studi karena oleh Uskup Surabaya Mgr. V. Sutikno Wisaksono, Pr, tahun 2008
ditetapkan sebagai tahun pendidikan. Dengan pencanangan itu dimaksudkan agar
pendidikan di sekolah Katolik di keuskupannya mulai berangsur membaik.
Diskusi atas dasar data yang terkumpul dan usaha pemerhati pendidikan akan
menjadi bahan pencerahan bagi para Uskup, di hari studi sidang KWI 2008.
Memang, persoalan pendidikan di sekolah Katolik tidak akan kunjung berhenti,
jika kesadaran beberapa pihak yang berkepentingan tidak menyadari pentingnya
sekolah Katolik sebagai salah satu andalan kerasulan Gereja? Maka siapakah
stake holder sekolah Katolik? Jawabannya: Uskup diosesan dan semua anggota
Gereja. Kanon 803, §§ 1-2 menyatakan: “Sekolah Katolik ialah suatu sekolah
yang dipimpin oleh otoritas gerejawi yang berwenang atau oleh badan hukum
gerejawi publik atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejawi melalui
dokumen tertulis. Pengajaran dan pendidikan di sekolah Katolik harus
berdasarkan azas-azas ajaran Katolik: hendaknya para pengajar unggul dalam
ajaran yang benar dan hidup yang baik”. Lebih jauh, dalam kan. 800, § 2
“hendaknya orang beriman kristiani mendukung sekolah Katolik dengan membantu
sekuat tenaga dalam mendirikan dan membiayai sekolah itu”. Dengan pernyataan
kanon itu bisa disimpulkan bahwa stake holder sekolah Katolik adalah: Uskup,
para Pastor Paroki, Umat beriman kristiani (orang tua siswa, pemerhati
pendidikan Katolik), pendiri sekolah Katolik (tarekat religius). Kalau mau
sekolah Katolik tetap berkualitas dan unggul maka semua pemangku kepentingan
harus duduk bersama, berdiskusi dan mencari tindakan konkrit untuk
menyelamatkan sekolah Katolik dari keterpurukannya. Sekolah Katolik tidak
berdiri sendiri. Dia ada di tengah masyarakat dan arah kebijakan pendidikan
nasional. Beberapa masalah berikut ini turut memengaruhi menurunnya kualitas
pendidikan Katolik.

2. Beberapa masalah lembaga pendidikan nasional

Pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberikan pelayanan secara
lebih merata, berkualitas dan terjangkau. Antara lain ditunjukkan oleh masih
tingginya penduduk buta aksara, rendahnya cakupan layanan pendidikan bagi
anak usia dini, serta masih rendahnya angka partisipasi pendidikan, terutama
untuk tingkat pendidikan menengah pertama sampai dengan pendidikan tinggi.
Dengan kesenjangan yang masih cukup tinggi antar kelompok masyarakat,
seperti antar penduduk kaya dengan penduduk miskin, antara lelaki dengan
perempuan, dan antara penduduk di perkotaan dengan pedesaan, dan antar
daerah. Sebagian besar penduduk tidak dapat memenuhi biaya pendidikan yang
dirasakan mahal dan pendidikan juga dinilai belum mampu memberikan nilai
tambah bagi masyarakat sehingga pendidikan belum dinilai sebagai bentuk
investasi. Fasilitas pelayanan pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan
menengah pertama ke atas belum tersedia secara merata. Khususnya di daerah
terpencil dan kepulauan sehingga menyebabkan sulitnya anak-anak terutama
anak perempuan untuk mengakses sarana pendidikan. Selain itu, fasilitas
pendidikan khusus dan layanan khusus bagi anak-anak yang mempunyai kelainan
fisik, emosional, mental, dan sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa masih belum tersedia secara memadai. Kualitas pendidikan
masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan peserta didik dan
pembangunan yang terutama disebabkan oleh kurang dan belum meratanya
pendidikan dan tenaga kependidikan baik secara kuantitas maupun kualitas,
belum memadainya ketersediaan fasilitas belajar, terutama buku dan alat
peraga, serta belum berjalannya sistem kendali mutu dan jaminan kualitas
pendidikan, serta belum tersedianya biaya operasional yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan proses belajar mengajar secara bermutu. Sistem pengelolaan
pendidikan belum sepenuhnya efektif dan efisien. Permasalahan pembangunan
IPTEK adalah: (1) belum tersedianya sumberdaya manusia, (2) modal, (3)
sarana dan prasarana, (4) informasi tentang penelitian dan pengembangan
IPTEK yang cukup sehingga tidak tercapainya ambang kritis aktivitas
penelitian dan pengembangan.

3. Menjadi berkualitas dan unggul dalam pendidikan

Obsesi kita adalah bagaimana usaha dan karya-karya Gereja menjadikan sekolah
Katolik sebagai media: (1) pewartaan kabar gembira tentang kerajaan Allah,
(2) mencerdaskan anak bangsa, (3) lebih berpihak kepada orang miskin.
Penjelasan: sebagai (1) sekolah yang merupakan media pewartaan kabar gembira
tentang kerajaan Allah. Seruan para bapak Gereja mau tidak mau harus
didengarkan dan dilaksanakan seperti yang tecantum dalam dokumen Gravissimum
Educationis tentang pentingnya sekolah Katolik. Di antara semua sarana
pendidikan, sekolah mempunyai bobot khusus. Sekolah harus menjadi media
mengembangkan kemampuan bakat-bakat intelektual dengan pewartaan yang tekun,
mengembangkan kemampuan nilai yang tepat, mengembangkan kepekaaan terhadap
nilai-nilai. Sekolah harus juga menjadi pusat kegiatan dan perkembangan yang
harus didukung bersama oleh keluarga, semua warga negara, lembaga keagamaan
dan juga oleh negara serta seluruh masyarakat manusia. Gereja dalam
mewartakan iman dan memaklumkan “kepada segala zaman tujuan adikodrati,
satu-satunya yang memberi arti penuh kepada hidup”. Gereja mendirikan
sekolah-sekolah, karena Gereja memandang sekolah sebagai sarana isitimewa
untuk memajukan pembentukan manusia seutuhnya, karena sekolah merupakan
pusat pengembangan dan penyampaian konsepsi tertentu tentang dunia, manusia
dan sejarah. Ditekankan juga oleh bapak konsili bahwa sekolah Katolik
merupakan bagian dari tugas penyelamatan Gereja khususnya untuk pendidikan
iman. Ciri khas sekolah Katolik adalah mengejar tujuan budaya dan
menyelenggarakan pendidikan manusiawi kaum muda, menciptakan lingkungan
hidup bersama di sekolah, yang dijiwai oleh semangat Injil, kebebasan dan
cinta kasih, dan membantu kaum muda, supaya dalam mengembangkan kepribadian
mereka, sekaligus berkembang sebagai ciptaan baru (bdk. GE, 8; Komdik KWI,
Sekolah Katolik, 2008)

(2) Mencerdaskan anak bangsa: sekolah Katolik hendaknya menjadi unggul.
Unggul dalam pembentukan kepribadian siswa. Maka pengajar di sekolah-sekolah
Katolik harus unggul dalam pengajaran dan hidup baik. Guru adalah pengajar
yang patut menjadi teladan melalui perilaku dan pengajarannya. Hendaknya
para guru sadar bahwa merekalah pelaku utama pendidikan dan pengajaran di
sekolah. Oleh sebab itu, setiap penyelenggara pendidikan sekolah Katolik
baik Keuskupan, tarekat maupun kaum awam kristiani hendaknya memerhatikan
guru (pengajar), agar mereka disiapkan dengan baik, diberi penghidupan yang
layak, dibina dan didampingi dalam ajaran moral kristiani. Sehingga mereka
memiliki pengetahuan baik profan maupun keagamaan yang didukung oleh gelar
yang sepadan, diperkaya dengan metodik dan didaktik (seni mendidik-mengajar)
sesuai dengan zamannya. Dengan jalan itulah guru-guru sekolah Katolik dapat
mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan misinya. Untuk dapat mencapai sasaran
itu maka Uskup Diosesan berhak untuk mengawasi dan mengunjungi
sekolah-sekolah Katolik yang berada di wilayahnya termasuk sekolah-sekolah
yang didirikan atau dipimpin oleh anggota-anggota tarekat religius..”( bdk.
Kan. 806, §1)

(3) Lebih berpihak kepada orang miskin. Tidak mudah saat ini dalam situasi
ekonomi yang tidak menentu dan cenderung buruk, Gereja menyelenggarakan
pendidikan sekolah Katolik dengan harga murah. Tapi tetaplah bisa terjadi
bahkan harus menjadi perhatian utama Gereja Katolik yakni sekolah Katolik
harus lebih melayani orang miskin. Bukan berarti tidak memerhatikan orang
kaya. Mereka juga harus mendapat perhatian, hanya orang miskin harus
mendapat perhatian utama. Semua anak bangsa terlebih anak-anak Katolik wajib
mendapat pendidikan di sekolah Katolik. “Hendaknya para orang tua
mempercayakan anak mereka kepada sekolah-sekolah dimana pendidikan Katolik
diselenggarakan. ..”(bdk. Kan. 798). Dengan pernyataan ini mau ditegaskan
bahwa kewajiban anak Katolik, diterima di sekolah Katolik, untuk dididik dan
diajar oleh guru-guru yang unggul meskipun dia miskin harus menjadi sebuah
cita-cita atau mimpi yang menjadi kenyataan. Mengapa pendidikan Katolik
tidak bisa murah? Karena sekolah swasta tidak mendapat subsidi yang sama
seperti negeri, karena biaya pendidikan dibebankan pada siswa, karena
sekolah Katolik tidak memiliki income tetap yang memberikan daya dongkrak
untuk membiayai gaji guru, peralatan sekolah, sarana-prasarana gedung dan
perangkat lainnya. Tapi apakah kita menyerah dengan soal biaya dibandingkan
dengan nilai luhur mendidik anak yang tidak mampu secara ekonomi tapi cerdas
dan berkepribadian baik agar menjadi anak bangsa (Gereja) yang unggul dalam
pelbagi segi untuk kemajuan negara dan masyarakat? Tidakkah ini karya yang
luhur maka dibutuhkan keberanian dan kerja keras semua pihak pengelola
sekolah Katolik.

4. Tiga pilar kunci agar sekolah Katolik berkualitas

Pertama, Sumber daya manusia (SDM), baik Guru sebagai penentu pendidikan,
Penyelenggara pendidikan (Yayasan) maupun siswa sekolah (murid). Sekolah
Katolik harus menjadikan “batu-batu yang dibuang itu menjadi batu penjuru
bagi Gereja dan Bangsa Indonesia”. Pendidikan di sekolah katolik hendaknya
menghasilkan siswa yang berkualitas (knowledge, skill dan attitude) serta
memiliki spiritualitas yang dewasa sehingga out put sekolah Katolik dapat
memberikan kontribusi bagi pembangunan anak bangsa.

Kedua, Manajemen. Manajemen adalah seni melaksanakan dan mengatur,
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. R.W. Grifin mendefinisikan
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan. Sekolah Katolik harus
memiliki manajemen yang baik sehingga setiap orang yang terlibat dan
berkepentingan bekerja untuk mencapai tujuan sekolah Katolik.

Ketiga, Dana atau uang. Dana perlu untuk mendukung dan memperlancar kegiatan
persekolahan. Dana menjadi penopang kehidupan sekolah. Dana yang terhimpun
untuk membiayai semua aktivitas di sekolah. Maka setiap sekolah Katolik
hendaknya memerhatikan dengan serius perihal pendanaan pendidikan sekolah
Katolik. Kini zaman Gereja kaum awam, maka layak dan pantas kaum awam yang
unggul dan berkompeten dalam bidang ekonomi (dana) dilibatkan agar sekolah
Katolik tetap eksis. Cara pengelolaan yang profesional, akuntabel dan
transparan, menjadi bagian penting pengelolaan keuangan sekolah. Kalau kita
setuju bahwa sekolah Katolik menjadi: sarana pewartaan kabar baik tentang
kerajaan Allah, mencerdaskan anak bangsa dan lebih berpihak kepada orang
miskin, maka administrasi keuangan sekolah Katolik harus dibenahi dan
menjadi prioritas karya kita. Dana yang terkumpul hendaknya dikelola untuk
membantu terselenggaranya pendidikan di sekolah Katolik agar menjadi lebih
baik, berkualitas dan unggul dan lebih perhatian kepada orang miskin
(prinsip subsidiaritas- solidaritas) . Semoga.

Jual Tanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.