Workshop “Membangun Ekosistem Adat dan Tradisi: Majelis, dan Masyarakat dalam Pelestarian Budaya”.

Yogyakarta, 19 Agustus 2026 — Upaya memperkuat keberadaan dan keberlanjutan adat serta tradisi Mataram terus dilakukan melalui kegiatan One Day Workshop “Membangun Ekosistem Adat dan Tradisi: Majelis, dan Masyarakat dalam Pelestarian Budaya”.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Nakula, Bakesbangpol Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 09.00–15.00 WIB, diikuti oleh 26 peserta dari berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap adat, tradisi, budaya, kelembagaan masyarakat, dan keberlanjutan kebudayaan Mataram.

Workshop dibuka dengan sambutan dari Kepala Bakesbangpol Provinsi DIY, Lilik Andi Aryanto, S.IP., M.M. Dalam sambutannya, Lilik menyoroti pentingnya perhatian bersama terhadap keberlangsungan pengetahuan dan praktik adat budaya di kalangan generasi muda.

Menurut beliau, perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda. Saat ini, tidak sedikit anak muda yang semakin jauh dari pengetahuan dan praktik kebudayaan daerahnya sendiri, sementara pengaruh kebudayaan asing semakin mudah masuk melalui perkembangan teknologi digital.

Lilik juga mengingatkan bahwa penggunaan gadget yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda perlu diimbangi dengan penguatan pengetahuan mengenai budaya, adat, dan tradisi sendiri.

“Generasi muda sekarang sudah banyak yang tidak mengetahui kegiatan adat dan budaya sendiri. Mereka lebih banyak mengenal kebudayaan asing dan kesehariannya sangat dekat dengan gadget,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam sambutannya.

3 Agenda Strategis

Workshop ini menjadi ruang bersama untuk membahas dan merumuskan tiga hal strategis yang dinilai penting bagi penguatan ekosistem adat dan tradisi Mataram.

  1. Pembentukan kelembagaan adat.
    Peserta membahas pentingnya sebuah kelembagaan yang mampu menjadi wadah koordinasi, penguatan, pelestarian, serta pengembangan adat dan tradisi secara terarah dan berkelanjutan.

2. Penyusunan program kerja.
Program kerja diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menyentuh aspek pendidikan budaya, kaderisasi generasi muda, dokumentasi pengetahuan adat, pelestarian tradisi, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan kegiatan budaya yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

3. pembahasan Peraturan Daerah (Perda).
Peserta juga mulai membahas pentingnya kerangka kebijakan daerah yang dapat memberikan ruang dan dukungan terhadap pelestarian serta pengembangan adat dan tradisi, termasuk bagaimana nilai-nilai budaya dapat menjadi bagian dari pembangunan daerah.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Kegiatan

Tema “Membangun Ekosistem Adat dan Tradisi” dipilih dengan pemahaman bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga atau satu kelompok saja.

Diperlukan sinergi antara Lembaga Adat, Dewan Adat, Majelis Adat, pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, tokoh masyarakat, akademisi, serta generasi muda.

Melalui ekosistem tersebut, adat dan tradisi diharapkan tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber nilai, pengetahuan, identitas, pendidikan karakter, dan kekuatan sosial masyarakat untuk menghadapi perubahan zaman.

Langkah Selanjutnya

Workshop sehari ini merupakan langkah awal dari proses perumusan yang lebih panjang. Berbagai gagasan, masukan, dan kesepakatan yang muncul akan menjadi bahan untuk pembahasan lanjutan.

Proses perumusan mengenai adat dan tradisi Mataram akan terus dilanjutkan dengan melibatkan lebih banyak unsur dan pemangku kepentingan. Harapannya, proses tersebut dapat menghasilkan sebuah kerangka kelembagaan, program kerja, dan arah kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan adat dan tradisi secara nyata.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk mengembalikan perhatian masyarakat, khususnya generasi muda, kepada akar budaya sendiri.

Adat dan tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan sumber nilai dan jati diri yang perlu dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

SON

Exit mobile version