Sejarah Penaklukkan Puncak Everest
Gunung Everest yang berada di perbatasan antara Nepal dan Tibet ini memiliki ketinggian 8.848 meter atau 29.029 kaki di atas permukaan laut. Di Tibet, gunung ini diberi nama Chomo Lungma yang berarti Dewi Tanah. Sementara orang-orang Inggris menamainya sesuai dengan nama seorang surveyor abad 19, Sir George Everest.
Mengutip catatan History, yang juga dikutip oleh portal Pendaki Cantik, upaya penaklukkan puncak Everest sudah dilakukan sejak tahun 1921 oleh penjelajah dari Inggris.
Saat itu mereka mampu menyusuri dataran tinggi Tibet sejauh 400 mil hingga ke kaki gunung. Walau akhirnya upaya pendakian dihentikan akibat badai. Kendati demikian, salah seorang pendaki, George Leigh Mallory berhasil membuka rute yang memungkinkan untuk didaki.
Setahun kemudian, Mallory mencoba mendaki kembali bersama George Finch dan Geoffrey Bruce. Upaya mereka terhenti di ketinggian 27.000 kaki akibat insiden yang menewaskan setidaknya tujuh orang Sherpa tewas tertimbun longsoran salju.
Pada tahun 1925, Inggris kembali membuat ekspedisi pendakian Everest. Pendaki Edward Norton kala itu berhasil mencapai ketinggian 28.128 kaki tanpa menggunakan oksigen buatan.
Selang empat hari kemudian, Mallory dan Andrew Irvine memaksakan pendakian menuju puncak yang berakhir dengan tewasnya kedua pendaki tersebut. Dan baru pada tahun 1999, jasad Mallory yang Sebagian masih utuh ditemukan di Everest. Masih menjadi misteri apakah Mallory dan Irvine telah mencapai puncak Everest atau tidak.
Inggris yang masih berambisi, kembali melakukan ekspedisi pada tahun 1950 dan 1951, setelah perang dunia II usai. Perjalanan melalui rute Tenggara, Ridge masih menemui kebuntuan.
