IN@Media – YOGYAKARTA(12/08/2026)– Proyek penggantian Jembatan Kewek di Kota Yogyakarta dipercepat proses penggarapannya. Pemerintah menargetkan jembatan yang menjadi salah satu jalur penyangga kawasan Malioboro tersebut sudah dapat difungsikan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2027.
Progres pembangunan Jembatan yang menggelontorkan anggaran Rp19 Miliar tersebut, mendapat perhatian dari DPR RI. Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, bersama Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, meninjau langsung proyek tersebut.
Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan perkembangan pembangunan berjalan sesuai rencana, sekaligus melihat kesiapan proyek yang memiliki peran penting terhadap konektivitas kawasan Malioboro.
Danang diterima jajaran Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah Provinsi DIY dan Plt Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Parlinggoman Simanungkalit.
Danang mengatakan peninjauan Jembatan Kewek merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komisi V DPR RI terhadap program yang dijalankan mitra kerja, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum.
“Ini bagian dari tugas pengawasan kami di Komisi V DPR RI. Kami melihat apa yang dilaksanakan oleh mitra kami, dalam hal ini Kementerian PU,” ujar Danang usai meninjau pada, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, pembangunan Jembatan Kewek perlu mendapat perhatian karena keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan akses transportasi, tetapi juga memiliki nilai historis bagi Kota Yogyakarta.
Jembatan yang berada di atas Sungai Code tersebut selama ini menjadi salah satu akses penting menuju kawasan Malioboro. Karena itu, proses pembangunan jembatan baru diharapkan tidak menghilangkan karakter lama yang menjadi bagian dari identitas kawasan.
Danang menegaskan pembangunan Jembatan Kewek merupakan proses pembaruan, bukan penghilangan jembatan bersejarah tersebut.
“Jembatan Kewek ini perlu diperbarui, bukan dihilangkan seperti yang sempat viral. Desainnya akan mengikuti desain lama dan sudah mendapat persetujuan dari Ngarso Dalem. Artinya, sisi tradisional dan historisnya tetap dipertahankan,” katanya.
Kepala Satker PJN Wilayah DIY, Tisara Sita, mengatakan pembangunan Jembatan Kewek saat ini telah memasuki tahapan penting. Selain itu, sejumlah pekerjaan struktur lanjutan juga terus dilakukan sebagai persiapan pemasangan girder.
“Untuk pekerjaan pondasi sudah selesai. Kemudian sudah ada second pile dan saat ini kami mempersiapkan rencana erection girder yang ditargetkan pada akhir September,” ujar Tisa.
Tisa menambahkan, pemasangan girder menjadi salah satu tahapan penting dalam pembangunan struktur utama jembatan. Setelah tahapan tersebut, pekerjaan akan berlanjut pada struktur dan fasilitas pendukung hingga jembatan siap difungsikan.
Ia mengatakan pihaknya terus mengejar target penyelesaian agar Jembatan Kewek dapat kembali digunakan masyarakat pada penghujung 2026.
“Harapan kami pada akhir tahun, saat Nataru, jembatan ini sudah bisa fungsional,” katanya.
Dalam proses pembangunan, proyek Jembatan Kewek sempat menghadapi kendala teknis berupa kondisi tanah yang mengalami ambles pada salah satu bagian pekerjaan. Namun, persoalan tersebut telah ditangani melalui langkah teknis dan kondisi lokasi saat ini dinyatakan aman.
“Kemarin sempat ada yang ambles, tetapi sudah bisa ditangani secara teknis dan sekarang sudah aman,” jelas Tisa.
Danang juga mengingatkan agar proses pembangunan tetap memperhatikan kondisi lapangan dan mengikuti spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
Menurutnya, percepatan pembangunan tetap harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kualitas konstruksi. Dengan demikian, target jembatan dapat difungsikan saat Nataru tidak mengurangi standar pekerjaan yang telah ditetapkan.
Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, menilai Jembatan Kewek memiliki posisi strategis bagi Kota Yogyakarta. Jalur tersebut menjadi salah satu penyangga kawasan filosofis Malioboro.
Jembatan Kewek(dikenal juga sebagai Jembatan Kleringan) adalah salah satu jembatan ikonik dan bersejarah di Kota Yogyakarta yang melintasi Sungai Code. Jembatan ini berfungsi sebagai urat nadi transportasi penting yang menghubungkan kawasan cagar budaya Kotabaru dengan pusat wisata Malioboro dan Stasiun Tugu. Di atas jembatan kendaraan ini, terdapat viaduk rel kereta api aktif yang sering menjadi lokasi favorit bagi para pencinta kereta api (railfans) untuk berfoto.
SON
