Bentuk Lestarikan Warisan Leluhur, Kalurahan Ngalang Gelar Adat Tradisi Nyadran Gunung Gentong

PASARKAYU

Gunungkidul (DIY), INAMEDIA.id – Selenggarakan adat tradisi Nyadran, ratusan warga masyarakat padati kaki Gunung Gentong tepatnya di situs cagar budaya petilasan Prabu Brawijaya ke V tepatnya di Padukuhan Manggung, Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, pada Selasa kliwon (9/5/2023).

Adat tradisi yang digelar merupakan agenda tahunan bagi warga masyarakat Kalurahan Ngalang, khususnya Padukuhan Manggung sebelum tiba adat tradisi selanjutnya yaitu Bersih Desa atau yang lebih sering disebut Rasulan. Rasulan baru akan dilaksanakan setelah genap tiga puluh lima hari (selapan) usai dilakukan tradisi Nyadran di Gunung Gentong digelar.

IKLAN

Acara tersebut dihadiri oleh Dinas Kundha Kabudayan Gunungkidul, Dinas Kundha Kabudayan DIY, Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Panewu Gedangsari, Kapolsek Gedangsari, Danramil Gedangsari, anggota DPRD Gunungkidul, beserta warga masyarakat yang sejak pagi berkumpul di area Nyadran untuk menunggu rombongan kirab yang berjalan menuju lokasi.

Prosesi diawali dari Balai Kalurahan Ngalang, warga masyarakat membawa hasil panen atau hasil bumi mereka dengan cara dipikul menggunakan Jodhang menuju ke lokasi upacara adat Gadean di Gunung Gentong yang berjarak sekitar 3,5 km.

Dalam perjalanananya para pembawa hasil panen tidak boleh beristirahat atau berhenti sebelum tiba di sebuah tempat yang disebut Watu lincip. Setibanya di Watu lincip para pembawa hasil panen disambut oleh Pamong Kalurahan beserta tokoh masyarakat sekitar.

Selanjutnya setelah beberapa saat beristirahat, para pembawa Jodhang melanjutkan perjalanan menuju lokasi upacara untuk diserahkan kepada sesepuh pelaksana upacara adat kemudian digelar doa bersama, selanjutnya makanan dibagikan kepada warga dan tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.

Menurut penuturan sesepuh adat sekaligus Ketua Dewan Budaya Kalurahan Ngalang Muchamad Satidjan, kegiatan yang dilaksanakan sudah berlangsung turun-temurun dari nenek moyang terdahulu. Muchamad Satidjan menyebut, petilasan Gunung Gentong pernah disinggahi Prabu Brawijaya V bersama dengan prajuritnya ketika dalam masa pelarianya. Yang kemudian sebagian diantaranya menjadi cikal bakal masyarakat Kalurahan Ngalang.

Adat tradisi Nyadran Gunung Gentong ini juga dianggap sebagai bentuk penghormatan warga masyarakat Kalurahan Ngalang yang ditujukan kepada para leluhur,” ungkapnya.

Sementara itu, Cb. Supriyanto selaku Dewan Budaya Kabupaten Gunungkidul yang juga bertindak sebagai tim monitoring dan evaluasi kegiatan mengatakan, pihaknya mengapresiasi bentuk kegiatan upacara adat tradisi Nyadran yang disetiap tahunnya mengalami peningkatan baik kualitas maupun pelaksanaanya.

Kalurahan Ngalang, kata Cb Supriyanto, saat ini memiliki predikat Kalurahan Rintisan Mandiri Budaya yang selanjutnya jika didalam kegiatan budaya maupun tahapan pelestariannya masyarakat selalu mendukung bukan tidak mungkin Kalurahan Ngalang akan menyandang predikat Kalurahan Mandiri Budaya dan satu-satunya yang ada di Kapanewon Gedangsari.

Sesuai dengan perintah Gubernur DIY, dikatakannya, upacara adat tradisi yang seperti ini hendaknya terus dilestarikan. Karena upacara adat yang seperti ini merupakan warisan adat tradisi leluhur, maka lantaran dengan kegiatan yang dilakukan warga masyarakat Kalurahan Ngalang akan lebih maju dan berkembang.

Jika Jogja sudah Istimewa, maka Kalurahan Ngalang harus luar biasa,” pungkas Cb. Supriyanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IFMAC & WOODMAC 2024