Makna Sungkeman Ditengah Era Modernisasi Jaman, Profesor Sutrisna : Tradisi itu Tetap Harus Dilestarikan

Hari Raya Idul Fitri 1444 H

PASARKAYU

Gunungkidul (DIY), INAMEDIA.id – Bagi kebanyakan warga masyarakat bersalaman antar satu  dengan orang yang lain adalah hal yang sudah biasa. Bersalaman dapat dilakukan di mana saja maupun kapan saja, baik pada sebuah acara tertentu ataupun pada saat bertemu dan berpapasan di jalan.

Namun di sebagian masyarakat Indonesia terdapat aktivitas bersalaman yang tergolong cukup unik, aktivitas tersebut sering mereka sebut dengan sungkeman.

IKLAN

Menurut Guru Besar Filsafat Jawa Profesor Sutrisna Wibawa, sungkeman berasal dari kata sungkem yang maknanya bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Dikatakan Profesor, sungkeman biasanya dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua.

Namun lazimnya sungkeman ini dilakukan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya sendiri,” jelasnya.

Lebih dalam Profesor menjelaskan, bagi masyarakat Jawa sungkeman merupakan tradisi turun temurun. Sungkeman, kata dia, berawal dari tradisi kraton, yang kemudian berkembang merambah ke desa-desa.

Sungkeman prosesinya dari anak kepada orang tua, yang awalnya dari Putra Dalem kepada Ngarsa Dalem, yang seiring berjalannya waktu kemudian diikuti dari anak
kepada orang tua dan dari adik ke kakak,” imbuhnya.

Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta ini, menyebut, tradisi sungkeman ditengah era modernisasi jaman seperti sekarang ini tetap harus dilestarikan. Karena menurutnya, sungkeman, sepenuhnya memiliki makna sebuah penghormatan dari anak yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Apalagi sungkeman pada momentum hari raya Idul Fitri atau lebaran sudah menjadi tradisi yang melekat bagi masyarakat dan sampai saat ini sungkeman menjadi tradisi yang tetap dipertahankan oleh Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IFMAC & WOODMAC 2024